BANDUNG BARAT , TRIBUN1.Com // Kemenangan pasangan Jeje Ritchie Ismail dan H. Asep Ismail dalam Pilkada Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian meredup. Di balik kemenangan tersebut, gejolak justru muncul dari barisan relawan yang merasa ditinggalkan setelah perjuangan panjang di lapangan.
Kekecewaan ini tidak lagi sebatas bisik-bisik. Sejumlah relawan mulai angkat suara, bahkan bersiap membuka fakta-fakta yang selama ini mereka simpan. Mereka merasa menjadi “alat kemenangan” yang kemudian dilupakan begitu kekuasaan diraih.
Adi, salah satu motor penggerak relawan, mengungkapkan bahwa kerja keras tim di akar rumput seolah tak bernilai. Ia menyebut, relawan yang dahulu menjadi tulang punggung pergerakan kini justru tersisih dari lingkar kekuasaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami yang berdarah-darah di lapangan, pasang spanduk, baliho, bahkan masuk ke pelosok desa tanpa pamrih. Tapi setelah mereka duduk, kami seperti tidak pernah ada,” tegas Adi.
Nada serupa juga datang dari Sobirin, yang akrab disapa Obing, relawan dari Kecamatan Cipatat. Ia mengaku sakit hati melihat kondisi pasca-kemenangan yang dinilai jauh dari semangat kebersamaan saat kampanye.
Menurut Obing, yang paling menyakitkan adalah masuknya figur-figur baru dalam lingkar kekuasaan yang justru tidak memiliki rekam jejak perjuangan.
“Kami ini berjuang dari nol, bukan datang saat sudah jadi. Tapi sekarang yang dipercaya justru orang-orang yang dulu tidak terlihat, bahkan diduga tidak memilih,” ujarnya dengan nada geram.
Para relawan menilai setidaknya ada tiga persoalan serius yang kini terjadi:
* . Minim Apresiasi: Tidak ada pengakuan moral maupun komunikasi terbuka kepada relawan awal.
* . Salah Kelola Kepercayaan: Posisi strategis dinilai diberikan kepada pihak luar yang tidak memiliki kontribusi nyata.
* . Krisis Komunikasi: Akses ke pendopo dan lingkungan pemerintahan dinilai tertutup bagi relawan akar rumput.
Fenomena ini memunculkan istilah yang kini ramai di kalangan relawan: “habis manis sepah dibuang.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan rasa dikhianati oleh kepemimpinan yang mereka dukung sendiri.
Situasi ini dinilai berpotensi menjadi bom waktu politik. Ketidakpuasan relawan bukan hanya berdampak pada internal tim, tetapi juga bisa menggerus kepercayaan publik yang sebelumnya menjadi basis kemenangan.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kami akan bicara lebih jauh ke publik. Banyak hal yang kami tahu selama proses pemenangan,” sindir Obing, memberi sinyal adanya potensi konflik yang lebih terbuka.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Jeje Ritchie Ismail maupun H. Asep Ismail terkait gelombang kekecewaan dari barisan relawan tersebut.
Publik kini menanti langkah konkret: apakah kepemimpinan baru akan merangkul kembali para pejuang awal, atau membiarkan luka politik ini berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas. Red **